Dalam bentang sastra fiksi sejarah di Indonesia, tak banyak pengarang yang sanggup melompati jebakan romantisisme kaku. Sebagian besar narasi rekaan masa lalu sering kali terjebak pada dua kutub: menjadi dogmatis—karena terlalu takut menyalahi teks sejarah standar—atau menjadi sekadar hiburan komikal yang kehilangan bobot intelektual saat mengolah mitos. Di tengah pusaran itulah novel Hikayat Pajajaran karya Zayn A.M. berdiri tegak, memamerkan kelas kepengarangan yang langka, tajam, dan memerdekakan.

Kecerdasan Zayn A.M. tidak diukur dari seberapa banyak fakta kuno yang sanggup ia hafal, melainkan dari kejelian strategisnya memanfaatkan instrumen licentia poetica. Berangkat dari rekam jejak kepenulisan lintas genre—mulai dari riset kebudayaan, konsep media, hingga penjelajahan ranah filosofis—Zayn A.M. memahami betul posisi Hikayat Pajajaran sebagai karya fiksi sejarah: sebuah laboratorium gagasan tempat teks sejarah tidak disembah sebagai dogma kaku, melainkan diolah kembali untuk menguji kesadaran pembaca hari ini.

Salah satu bukti benderang dari kecerdasan ini adalah cara Zayn A.M. mengelola kisah-kisah besar Nusantara, seperti wacana kelembagaan Walisanga. Bagi penulis lain, kisah populer biasanya ditelan mentah-mentah demi memanjakan selera pasar, atau sebaliknya, dibuang habis atas nama positivisme akademis yang dingin. Namun Zayn A.M. mengambil jalan ketiga yang jauh lebih bernas: ia meminjam perangkat naratif (dramatic device) populer tersebut untuk kemudian dibongkar dan dikritisinya dari dalam lewat lidah para tokohnya.

Kejeniusan skenario ini memuncak pada adegan dialog antara Syarif Hidayatullah dan Prabu Jayadewata (Prabu Siliwangi). Di tangan Zayn A.M., perdebatan dua tokoh besar ini tidak jatuh menjadi drama hitam-putih yang dangkal. Tidak ada pahlawan karikatural, dan tidak ada pihak yang dikorbankan karakternya.

Zayn A.M. secara cermat membangun konstruksi pemikiran yang setara dan bermartabat:

  1. Prabu Jayadewata dihadirkan bukan sebagai raja lokal yang resisten atau bebal, melainkan sebagai seorang negarawan-filsuf yang sanggup membedakan antara substansi keselarasan universal (Slam/Sunda) dengan bahaya politisasi agama menjadi alat kekuasaan geopolitik.
  2. Syarif Hidayatullah ditampilkan bukan sebagai penakluk doktriner, melainkan sebagai diplomat peradaban yang memegang teguh esensi paling murni dari ajaran yang dibawanya: kebebasan batin tanpa paksaan.

Melalui olah pikir yang presisi ini, Zayn A.M. membuktikan kapasitasnya sebagai pengarang lintas genre yang utuh. Ia menaikkan kelas fiksi sejarah Indonesia dari sekadar romansa perebutan takhta menjadi panggung dialektika filsafat politik peradaban.

Pada akhirnya, Hikayat Pajajaran adalah wujud kemenangan kecerdasan seorang pengarang. Zayn A.M. tidak hanya mahir menyusun ritme narasi dan keheningan dramatis dalam setiap lembar dialog, tetapi juga berhasil membuktikan bahwa di tangan seorang penulis yang cerdas, fiksi sejarah bisa menjadi medium yang jauh lebih jujur, bernyawa, dan menembus batas zaman dibanding barisan catatan sejarah yang kaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *