Serang— 15 September 2026 — Di tengah hiruk-pikuk zaman yang kian kehilangan arah dan kerancuan berpikir yang kian akut, sebuah jembatan literasi yang megah kembali hadir menantang arus. Penerbit Sandika dengan bangga mengumumkan peluncuran mahakarya terbaru dari penulis dan pemikir Zayn Al Muttaqien, sebuah buku yang bertajuk Seri Cara Kerja Wahyu (CKW).
Seri CKW bagian pertama ini mengambil judul Gua Hira: Cahaya di Ruang Gelap. Sebuah dekonstruksi nalar Jahiliyah dan proklamasi hukum pengelolaan semesta.
Buku ini bukan sekadar lembaran bacaan biasa, melainkan sebuah ikhtiar besar untuk membongkar dan menata ulang landasan berpikir umat manusia. Melalui pendekatan yang tajam, mendalam, dan sastrawi, Zayn Al Muttaqien mengajak pembaca untuk melakukan instal ulang atas sistem berpikir (operating system) peradaban yang hari ini mengalami malafungsi.
Membongkar Instruksi Iqra’ dari Ruang Kosong Universal
Di dalam buku ini dijelaskan, bagaimana sesungguhnya makna Iqra dan 5 ayat lainnya di dalam Surah Al-‘Alaq. Dalam Bab 1, misalnya, penulis memberi judul “Membongkar Instruksi Awal (Membedah Iqra)”.
Dalam Bab 1 pembuka ini, Zayn Al Muttaqien melakukan pembedahan yang sangat teknis dan mengakar terhadap kata pertama yang menggetarkan Gua Hira: Iqra’. Menggunakan pisau analisis Ilmu Alat Murni—mulai dari Ilmu Sharaf (Morfologi Dasar), Ilmu Nahwu (Tata Kalimat), hingga Ilmu Balaghah (Keserasian Bahasa)—buku ini meruntuhkan asumsi dangkal yang selama ini menyempitkan arti Iqra’ sebatas aktivitas lisan “membaca teks di atas kertas”.

“Kita terlampau tergesa-gesa mengartikan perintah tersebut sebagai perintah untuk membaca. Padahal, akar kata tersebut bermakna menghimpun, mengumpulkan, atau menahan sesuatu hingga penuh lalu mengalirkannya kembali,” tulis Zayn Al Muttaqien dalam salah satu penggalan bab pertamanya.
Penulis mengurai bagaimana struktur gramatikal Iqra’ yang berbentuk Fi’il Amr (kata kerja perintah) dengan objek yang sengaja ditiadakan (hadzf al-maf’ul), sesungguhnya menciptakan sebuah “ruang kosong universal”. Ini adalah sebuah decree—ketetapan mutlak semesta yang membebaskan manusia secara total untuk menghimpun tanda-tanda zaman, menyingkap tirai ketidaktahuan, dan bergerak aktif menjadi penggerak peradaban.
Komitmen Penerbit Sandika
Peluncuran buku ini sekaligus mempertegas visi Penerbit Sandika dalam menjaga tradisi literasi terpilih yang berbobot di Indonesia. Perjalanan waktu boleh saja menguji, namun komitmen Sandika untuk melahirkan buku yang mampu menyalakan pelita di dalam sanubari pembaca tidak akan pernah luntur.




Leave a Reply