Cerpen ZAYN A.M
Matahari pagi di Kampung Pasirmanggu, Banten, baru saja merangkak naik, mengusir sisa-sisa kabut yang memeluk perbukitan batu dan jejeran pohon kelapa. Bagi radar modern atau aplikasi penunjuk arah di ponsel, koordinat tempat ini mungkin hanyalah sebuah titik sunyi di ujung peta, sebuah pelosok yang nyaris tak kasat mata. Namun, di hadapan semesta, Pasirmanggu memuat takdir yang sama besarnya dengan kota-kota megah di belahan bumi lain. Di sanalah cerita ini bermula, dari tanah liat yang basah oleh embun dan udara yang masih bersih dari polusi dunia baru.
Pagi itu, udara terasa hening saat Nyai Jarwinah melangkah menyusuri jalan setapak tanah merah. Di dadanya, terlelap seorang bayi mungil bernama Galur Pamungkas. Dekapan kain batik Nyai Jarwinah begitu erat, menjaga sang buah hati dari sapuan angin pagi yang dingin. Perempuan yang akrab disapa Nyai Win itu berniat menuju warung di ujung persimpangan untuk membeli keperluan dapur.
Namun, langkahnya tertahan saat melintasi pelataran sebuah masjid beratap tumpang yang kayunya sudah menghitam dimakan usia. Di teras masjid itu, duduk seorang lelaki tua dengan jubah putih yang bersahaja dan surban yang melingkar rapi di kepalanya. Beliau adalah Abah Haji.
Bagi masyarakat sekitar, Abah Haji bukan sekadar guru mengaji. Beliau adalah samudra ilmu lintas organisasi yang dihormati, tempat ratusan tokoh, guru, aktivis, dan santri menimba ilmu mulai dari fikih, syariat, hingga menyelami kedalaman thariqat, hakikat, dan makrifat. Banyak muridnya yang harus menahan lapar melalui tirakat puasa berhari-hari hanya untuk bisa menangkap setetes berkah dan pemahaman dari lisan beliau. Beliau tersohor memiliki karamah weruh sedurung winarah, mengetahui apa yang akan terjadi sebelum waktunya tiba.
Mata tua Abah Haji yang jernih dan tajam menatap ke arah Nyai Jarwinah. Seolah-olah, pandangan itu menembus lembaran waktu belasan tahun ke depan, melihat sosok Galur yang kelak berdiri di tengah gempuran badai modernitas. Beliau tahu, bayi di dekapan Win ini tidak akan tumbuh di zamannya yang kolot dan sunyi. Galur akan hidup di zaman yang bising, zaman di mana isi kepala manusia diobrak-abrik oleh teknologi dan kekosongan jiwa. Galur tidak bisa dididik dengan cara biasa karena ia harus hidup di zamannya, bukan sezaman dengan Abah Haji. Karenanya, ilmu itu harus diberikan langsung secara ruhani.
“Win, mau ke mana?” suara Abah Haji memecah keheningan, berat namun menyejukkan.
Nyai Jarwinah menghentikan langkahnya, menunduk takzim dengan senyum hormat yang terkembang. “Mau ke warung sebentar, Bah. Membeli garam dan kebutuhan dapur.”
Abah Haji tidak membalas jawaban itu dengan anggukan biasa. Beliau bangkit dari duduknya, melangkah perlahan mendekati pinggir teras masjid. Isyarat tangannya meminta Jarwinah untuk mendekat.
“Coba bawa Galur ke sini. Buka mulutnya!” perintah Abah Haji, nadanya tenang namun mengandung wibawa yang tak terbantahkan.
Nyai Jarwinah sempat tertegun ragu. Diliputi rasa heran, ia melangkah mendekat dan dengan hati-hati membetulkan posisi gendongannya. Ia menyingkap kain penutup wajah bayinya yang masih merah, lalu dengan lembut menyentuh dagu kecil Galur hingga bibir mungil sang bayi terbuka sedikit, menghadap ke arah langit pagi.
Dari jarak beberapa langkah, Abah Haji memejamkan mata sejenak. Dada beliau naik turun, merapalkan doa-doa rahasia yang tak terdengar oleh telinga manusia. Tiba-tiba, beliau menarik napas dalam-dalam.
“Ohek… ohek…”
Beliau batuk kecil, mengumpulkan cairan berkah dari tenggorokannya, lalu melontarkan luhah (lolohan spiritual) itu dengan presisi yang luar biasa. Cairan itu meluncur dan jatuh tepat di dalam tenggorokan Galur bayi. Ajaibnya, sang bayi tidak menangis atau tersedak. Ia justru mengecap bibirnya pelan, seolah baru saja mereguk nektar yang manis, lalu kembali tertidur dengan sangat damai.
Nyai Jarwinah terbelalak kecil, ada rasa cemas sekaligus takjub yang bercampur di dadanya. Dengan suara berbisik karena sungkan, ia memberanikan diri bertanya.
“Kok diberi luhah, Bah?”
“Agar Galur calakan, Win,” jawab Abah Haji pendek, matanya menerawang jauh ke langit biru. “Dia akan menjadi manusia yang cerdas di masa depan.”
Karomah yang ditiupkan Abah Haji melalui luhah itu terbukti nyata. Di usia yang bahkan belum menginjak bangku sekolah, Galur kecil sudah menunjukkan kecintaan yang luar biasa pada masjid. Hampir setiap hari ia menghabiskan waktu di sana, “bermain” sekaligus berguru pada Abah Haji. Ia belajar meliukkan suara untuk azan, mengeja huruf-huruf hijaiyah, dan menyerap dasar-dasar ilmu agama tradisional dengan sangat cepat.
Suatu hari, ketika waktu salat Magrib telah masuk, suasana di dalam masjid masih sunyi. Para jamaah belum juga berkumpul karena sebagian masih di ladang atau di rumah. Di dalam ruang utama masjid, hanya ada Abah Haji dan Galur kecil yang duduk bersila di dekat mihrab.
Abah Haji menoleh ke arah bocah itu. “Qomat, Lur,” titah beliau lembut.
Dengan sigap, Galur berdiri dan mengumandangkan iqamah dengan suaranya yang cempreng namun fasih dan lantang. Begitu iqamah selesai, Abah Haji bersiap memimpin salat. Beliau menoleh, lalu mengulurkan tangannya, menarik tubuh kecil Galur untuk maju dan berdiri menjadi makmum di samping kanan beliau, posisinya hampir sejajar dengan Abah Haji, sebagaimana fikih mengatur salat berjamaah yang hanya terdiri dari imam dan satu makmum.
Tak lama setelah salat dimulai, satu per satu jamaah dewasa berdatangan. Mereka langsung masuk ke dalam saf, namun alih-alih menarik Galur ke belakang untuk menyamakan barisan, para jamaah ini justru membuat saf baru sendiri di belakang imam. Galur kecil tetap dibiarkan salat di posisi semula, sejajar di samping Abah Haji hingga rakaat terakhir selesai.
Begitu salam diucapkan dan doa singkat selesai dipanjatkan, Abah Haji membalikkan badannya menghadap jamaah. Gurat wajah sepuhnya berubah menegang. Amarah beliau meledak seketika, menggema di dinding-dinding masjid tua itu. Beliau memarahi para jamaah yang duduk menunduk.
“Mengapa kalian tidak menarik Galur bersama saf jamaah lainnya?!” tanya Abah Haji dengan nada tinggi penuh teguran.
Suasana menjadi sangat tegang. Para orang tua dan pemuda kampung saling pandang. Akhirnya, salah seorang jamaah memberanikan diri berkilah dengan suara lirih, “Galurnya tidak mau mundur, Bah…”
Mendengar alasan itu, kemarahan Abah Haji justru memuncak. Mata beliau menatap tajam ke arah jamaah yang berkilah tadi.
“Galur kan masih kecil, tidak tahu apa-apa! Kalian seharusnya yang sudah paham fikih! Galur saya dekatkan ke imam karena tadi kami hanya salat berdua. Kalau sudah ada makmum lain yang datang, harusnya Galur yang ditarik ke belakang oleh kalian agar safnya rapi! Kenapa malah dibiarkan?!”
Mendengar amarah Abah Haji yang begitu menggelegar dan tak terbantahkan, seluruh jamaah langsung terdiam seribu bahasa. Tidak ada satu pun yang berani mendongak, apalagi membantah. Di ruang yang senyap itu, mereka akhirnya sadar akan kelalaian diri—bahwa ilmu bukan sekadar hafalan, melainkan kepekaan untuk menata dan merapikan barisan.



Leave a Reply