Pernahkah Anda membayangkan sebuah skenario gila di mana sebuah karya fiksi kontemporer modern justru dianggap oleh jutaan orang sebagai manuskrip sejarah sakral warisan leluhur? Itulah ironi kebudayaan sekaligus komedi literasi terbesar yang melatarbelakangi lahirnya novel epik terbaru, Renjana Tanah Jawara (Kisah Pengeran Pande Gelang dan Putri Cadasari versi novel), karya Zayn A.M. alias Zaenul Muttaqien.

Kisah romansa legendaris karangannya yang berjudul Pangeran Pande Gelang dan Putri Cadasari, yang awalnya ia ketik di awal era 2000-an untuk sayembara muatan lokal Dinas Pendidikan Provinsi Banten, kini telah bertransformasi menjadi “mitos purba milik bersama”. Semua itu terjadi akibat tsunami copy-paste berjamaah tanpa nama di belantara jagat digital.

ZAYN A.M. (Zaenul Muttaqien) – Penulis Cerita Asli “Pangeran Pande Gelang dan Putri Cadasari”

Di permukaan, mata publik dan para plagiator hanya tertuju pada dua kata besar yang menjadi headline daerah: Pandeglang dan Cadasari. Nama kota itulah yang menjadi daya tarik bagi banyak pihak untuk berlomba-lomba memunculkan kisah di baliknya. Para penjiplak dan beberapa blogger merasa aman-aman saja menghapus nama “Zaenul Muttaqien” sebagai penulis cerita tersebut, termasuk mereka yang telah memvisualisasikannya dalam bentuk film atau cerita lainnya. Bahkan, dalam acara besar seperti ‘Dangdut Academy’. Mereka mengira, karena cerita ini bergenre legenda asal-usul daerah, jejak sang kreator bisa menguap begitu saja ditelan bumi.

Namun, ada satu hal krusial yang luput dari kalkulasi mereka: Zaenul Muttaqien bukanlah penulis dadakan. Ia adalah seorang sastrawan murni yang menempa insting tekstualnya lewat proses panjang yang sangat berdarah-darah. Sejak masih berseragam di SMP Negeri Cikeusal, jemarinya sudah lihai merajut diksi. Bukan sekadar menulis curahan hati di buku harian, karya-karya Zayn A.M. remaja di masa sekolah itu sudah berhasil menembus kerasnya barikade kurasi meja redaksi ibu kota. Tulisannya kerap nampang di media-media cetak legendaris yang disegani pada masanya, seperti Sentana, Inti Jaya, hingga Sinar Pagi Minggu—media yang mungkin hari ini fisiknya sudah tidak terbit lagi.

Berangkat dari jam terbang yang dirajut sejak usia belia itulah, Zayn A.M. paham betul bagaimana sebuah kata bekerja. Ia mengerti anatomi sebuah tulisan, paham bagaimana sebuah narasi bisa liar bergerak, dan yang paling fundamental: ia tahu persis bagaimana sebuah tulisan harus meninggalkan jejak abadi bagi penciptanya.

Maka tak heran, jauh sebelum era algoritma internet dan media sosial merajai Indonesia, Zayn A.M. seolah-olah dianugerahi indra keenam. Saat merakit kisah cinta tragis Putri Arum di atas mesin tik kuno miliknya dua dekade silam, visinya melompat jauh ke depan. Ia seperti sudah bisa meramal bahwa suatu hari nanti, naskah sederhana ini akan meledak, populer, dan viral di mana-mana.

Sadar akan potensi badai penjiplakan masif di masa depan, sejak ketukan pertama jemarinya di atas pita mesin tik tua itu, ia sudah menyiapkan sebuah perisai gaib. Sebuah benteng pertahanan hukum dan literasi yang sengaja ia tanam tepat di hulu cerita. Teknik tingkat tinggi ini dikenal dalam dunia intelektual sebagai Steganografi Sastra (Literary Steganography)—menyembunyikan sandi pengunci identitas di balik untaian kalimat yang tampak biasa.

Perhatikan polanya. Jika Anda membuka naskah cerita tersebut—baik versi yang masih murni dari mesin tiknya maupun versi yang sudah dimanipulasi jutaan kali di internet—cerita itu selalu dan wajib dimulai dengan jangkar latar yang sama: Bukit Manggis. Di sanalah awal kisah Putri Arum duduk termenung menanti sang pangeran. Naskah itu kemudian ditutup dengan kalimat toponimi yang manis: “…tempat sang putri duduk termenung di Bukit Manggis, sekarang dikenal dengan nama Pasir Manggu.”

Masyarakat awam dan penutur dongeng mengira Pasir Manggu masuk ke dalam alur karena tempat itu menyimpan situs purbakala atau petilasan sakral dari abad pertengahan. Padahal, rahasia terbesar, paling personal, sekaligus “stempel asli” dari teks tersebut sangatlah sederhana: Pasir Manggu adalah nama kampung halaman kecil tempat Zaenul Muttaqien dilahirkan ke dunia!

Secara linguistik, ia bermain cantik dengan kamuflase bahasa lokal Sunda, di mana kata Pasir berarti bukit, dan Manggu berarti manggis. Dengan menyisipkan nama kampung halamannya sendiri sebagai gerbang pembuka cerita, Zayn A.M. sedang menanam “sidik jari geografis” yang mustahil bisa dihapus oleh siapa pun.

Artinya, selama lebih dari 20 tahun terakhir, setiap kali ada orang yang melakukan copy-paste massal dan setiap kali ada penerbit nakal yang mencetak ceritanya tanpa izin, mereka sebenarnya sedang bergotong-royong menyebarkan alamat rumah, koordinat tanah, dan bukti ari-ari kelahiran Zaenul Muttaqien ke seluruh penjuru dunia tanpa mereka sadari!

Di mahkamah logika maupun hukum hak cipta, trik ini adalah skakmat yang tak terbantahkan. Bagaimana mungkin sebuah mitos kuno abad pertengahan bisa meramal dengan sangat presisi nama kampung tempat lahirnya seorang anak manusia bernama Zaenul Muttaqien di era modern?

Kini, melalui karya terbarunya yang dikemas megah, Renjana Tanah Jawara: Pangeran Pande Gelang dan Putri Cadasari , Zayn A.M. akhirnya membuka rahasia stempel gaib ini kepada publik. Langkah metamorfosis ini bukan sekadar untuk menjemput hak moralnya yang sempat terapung tanpa nama. Novel ini adalah sebuah tamparan edukasi yang elegan bagi dunia literasi kita: bahwa sekreatif apa pun orang mencoba mencuri sebuah tulisan, mereka tidak akan pernah bisa mencuri isi kepala, rasa, dan tanah kelahiran dari seorang sastrawan murni yang sudah menulis sejak masa kecilnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *