Meja peradaban hari ini harus dibersihkan terlebih dahulu dari segala distorsi dan pembunuhan karakter. Terutama yang sengaja dilekatkan pada satu kata kunci paling fundamental: Dogma. Selama berabad-abad, kaum liberal instan dan para pedagang sekuler berhasil melakukan manipulasi terstruktur. Mereka menstempel kata dogma secara negatif; disamakan dengan kebodohan berpikir, dogmatisme buta, atau pemaksaan keyakinan tanpa nalar. Dogma dicitrakan seolah musuh abadi bagi kemajuan, sains, dan kebebasan berpikir. Hari ini, jika kata dogma diucapkan, yang langsung terbayang adalah sosok kakek tua pemarah yang memaksa cucunya percaya pada takhayul, atau tiran lalim yang membungkam akal sehat demi melanggengkan kekuasaan. Pemikiran sekuler telah sukses memisahkan kesucian dari ruang nalar manusia.

Jika kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dogma didefinisikan sebagai pokok ajaran yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik, tidak boleh dibantah dan diragukan. Mari kita bedah secara jujur lewat kacamata teosentris yang utuh: di manakah pusat dari pokok ajaran yang tidak boleh dibantah itu berada? Kaum sekuler dengan naifnya mengira bahwa dogma hanya berputar-putar di dalam ruang ibadah ritual atau lembaran kitab suci kuno. Mereka buta terhadap fakta terbesar bahwa semesta ini adalah agama itu sendiri, dan alam raya adalah kitab suci yang sedang berjalan. Alam semesta tidak bekerja secara kebetulan atau mekanis tanpa arti. Setiap gerak atom, rotasi planet, hingga hukum gravitasi adalah ajaran alam—ayat-ayat nyata yang diturunkan langsung oleh Sang Pencipta.

Dalam ruang lingkup ajaran alam inilah, dogma menemukan wujudnya yang paling murni, kaku, dan absolut. Di alam raya, hukum gravitasi bahwa benda bermassa akan saling tarik adalah pokok ajaran universal yang tidak boleh dibantah. Anda tidak bisa melakukan demonstrasi massa untuk mengubah nilai gravitasi menjadi minus. Titik didih air pada suhu seratus derajat Celsius di tekanan satu atmosfer adalah dogma fisik yang rigid. Anda tidak bisa berunding dengan molekul air agar mendidih di suhu dua puluh derajat hanya karena sedang terburu-buru. Hukum kausalitas atau sebab-akibat adalah dogma operasional yang menjaga agar alam semesta tidak jatuh ke dalam kekacauan total. Seluruh isi semesta tunduk, patuh, dan tidak meragukan perintah Penciptanya. Sifat kaku dari dogma yang murni ini bukanlah sesuatu yang negatif. Sifat tersebut merupakan ketetapan sistemik (muhkamat) yang menjaga agar alam raya tidak runtuh dalam hitungan detik. Tanpa kekakuan hukum mutlak tersebut, semesta ini akan hancur seketika menjadi ketiadaan.

Lalu, mengapa kata dogma menjadi begitu kotor dan menakutkan dalam sejarah sosial manusia? Jawabannya terletak pada fakta bahwa yang selama ini dipertontonkan dan dicekokkan kepada umat bukanlah dogma ilahi, melainkan dogma feodal. Ada perbedaan yang sangat telanjang di antara keduanya. Dogma ilahi bersumber langsung dari Sang Arsitek Semesta melalui ajaran alam yang objektif, adil, transparan, dan tidak pandang bulu. Gravitasi menarik siapa saja tanpa peduli apakah ia raja atau gelandangan. Perannya adalah menjaga keseimbangan ekosistem dan keadilan peradaban agar tidak kolaps. Sebaliknya, dogma feodal bersumber dari nafsu kekuasaan raja, oligarki, dan pemuka agama tukang jilat. Sifatnya subjektif, diskriminatif, menguntungkan kaum tertentu, dan menindas kaum lemah. Ketika para penguasa feodal ingin menjajah manusia, mereka mencatut nama Tuhan untuk menyelundupkan aturan buatan manusia yang menindas, seolah-olah itu adalah ajaran mutlak yang suci. Mereka membungkam kritik dengan dalih bahwa aturan tersebut adalah titah langit yang tidak boleh dibantah. Di sinilah akal sehat dihancurkan: manusia dipaksa tunduk secara feodal kepada sesama manusia dengan alasan sedang menjalankan dogma ilahi.

Di dunia yang serba relatif ini, manusia justru wajib memiliki titik tumpu yang kaku dan absolut. Jika semua hal di dunia ini bisa dinegosiasikan—bahkan keadilan, kejujuran, dan kemanusiaan—maka peradaban akan berubah menjadi rimba belantara di mana siapa yang paling kuat, dialah yang menang. Keadilan adalah sebuah dogma yang kaku; menindas orang yang tidak bersalah adalah kejahatan mutlak tanpa ada ruang negosiasi di dalamnya. Kebenaran adalah dogma yang rigid; dua tambah dua adalah empat, bukan lima, meskipun seluruh penguasa di dunia bersekutu untuk mengubahnya.

Ketika kitab panduan tertulis diturunkan, fungsinya adalah menghadirkan kembali dogma ilahi yang objektif untuk merubuhkan segala bentuk dogma feodal buatan manusia lalim. Menolak dogma secara total adalah bentuk kebodohan berpikir yang fatal, karena itu sama artinya dengan menolak hukum alam. Yang harus kita tolak dan hancurkan sampai berkeping-keping bukanlah dogma itu sendiri, melainkan penyalahgunaan dogma oleh para penindas. Mendeklarasikan kesaksian iman adalah dogma mutlak bahwa tidak ada otoritas di atas bumi yang berhak memperbudak manusia selain hukum kebenaran objektif. Menjaga sirkulasi ekonomi adalah dogma kaku bahwa harta tidak boleh menumpuk di tangan oligarki sementara yang lain kelaparan. Memahami dogma secara benar berarti membebaskan akal dari rantai feodalisme, mengembalikan hukum keadilan ke tempatnya yang tertinggi, dan menolak tunduk kepada segala bentuk tuhan-tuhan palsu di muka bumi. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *